Inspirasiku 2

September 15, 2010

Nama   : Zahra Firdausi

NRP    : A34100076

Laskar : 20

“Begitu mahal harga sebuah kejujuran karena akan dibayar dengan ketakwaan”

Ya mungkin inilah sekelumit pengalaman yang masih erat teringat di pikiran ini.cerita tentang perjuangan kecil kami menghadapi ujian,ya ujian nasional,4 bulan yang lalu.Ujian yang membuat gempar seluruh siswa SMA di Indonesia,gempar???ya gempar karena entah apa alasannya, mungkin karena UN menjadi salah satu penentu kelulusan. Kelulusan yang sangat dinantikan selama 9tahun menimba ilmu untuk melangkah ke masa depan, masa depan yang akan  mengantarkan kami ke jenjang perkuliahan, pekerjaan, maupun pernikahan.

Tak terasa saya telah duduk di bangku kelas 3 SMA, rasanya baru kemarin saya di ospek kakak kelas, tapi inilah waktu berjalan tanpa bisa di putar. Agenda kelas 3 pun di sibukkan dengan berbagai les dan TO untuk mempersiapkan ujian nasional. Hampir setiap hari kami belajar kelompok untuk mereview pelajaran pelajaran di kelas 1& 2. Bukan hanya pikiran, mental dan tenaga pun perlu saya siapkan.

Semenjak menginjak semester 2 kegiatan di sekolah semakin padat. Saya dan teman-teman pun tetap mengikuti kegiatan ini, walaupun rasa jenuh seringkali kami hadapi tapi, kami tidak boleh terbuai dengan kesenangan sementara ini karena kami yakin suatu hari nanti kami pasti mendapatkan buah yang manis dari perjuangan ini.

Hari berganti hari tak terasa UN pun semakin mendekat . Jujur walaupun saya telah mempersiapkan mental, tapi tetap saja rasa cemas dan takut gagal pun selalu terlintas. Yang menjadi pangkal masalah dari UN ini adalah nilai kejujuran. Setiap siswa pasti tahu ada kebocoran di setiap ujian, tapi saya dan ke-6 teman saya yakin bahwa kami dapat menyelesaikan UN ini  dengan murni.

Yang saya heran kenapa teman-teman yang lain mau menerima kebocoran itu, padahal dari segi persiapan mereka sudah maksimal. Mungkin karena mereka menginginkan nilai yang sempurna.

Entahlah saya dan ke-6 teman saya sempat menjauhi teman-teman yang lain karena masalah ini, tak banyak yang kami lakukan kami hanya berusaha dan berdoa semoga kami mendapatkan jalan yang terbaik.

Sebenarnya bukan dari sekolah kebocoran itu datang, karena sekolah kami cukup bersih dari masalah ini, tapi ini semua datang dari inisiatif teman-teman yang takut akan kegagalan.

Tak masalah mereka bilang kami munafik, tapi kami benar-benar bertekad untuk melewati UN ini dengan kejujuran. Kejujuran yang akan memberikan rasa bangga kepada kami. Bukan hanya meraih selembar kertasdengan kata LULUS tapi sebenarnya tidak lulus dalam proses.

Seminggu sudah UN telah kami lewati, alhamdulillah rasanya gumpalan beban telah hilang di dada kami. Tapi kami belum bisa berlenggang ria sebelum mendapat hasil kelulusan.

Hari ini hari dimana penentuan saya dan seluruh teman-teman SMA bisa lulus atau tidak. Saya buka surat kelulusan itu, alhamdulillah tulisan LULUS tertera di dalamnya. Air mata bahagia pun memetes deras dari mata ini. “Tuhan terima kasih atas segala pertolonaganMu.” Tapi badan ini seras arapuh ketika mendengar berita bahwa satu dari 6 teman yang berjuang bersama kami tidak lulus.

Dia gagal di satu mata pelajaran. Peristiwa ini cukup membuat kami jatuh, rasanya tak adil, mengapa usaha kami yang begitu keras harus gagal seperti ini, sementara mereka teman-teman yang lain tertawa bahagia dengan kelulusan yang mereka banggakan.

Kami tetap memberi support dan motivasi kepada teman kami agar tetap berjuang lebih keras lagi. Dengan usahanya yang gigih dia kembali mengikuti ujian ulang dan hasilnya dia dapat memperbaiki nilai yang kurangnya itu.

Mungkin ini kesuksesan yang tertunda, akhirnya dia dapat masuk di perguruan tinggi yang dia inginkan, tanpa hambatan dia dapat langsung masuk di perguruan tinggi itu. Sementara mereka yang dengan ujiannya memiliki nilai yang tinggi masih menanti panggilan dari perguruan tinngi yang mereka inginkan.

Inilah rahasia Tuhan tak ada satupun manusia yang dapat mengetahuhi..

Inilah salah satu kalimat yang dapt memotivasi kami.

“Perjuangan kita adalah jihad kita.Kemuliaan hudup kita tergantung pada jihad apa yang kita kerjakan hari ini.”

Mungkin sekian cerita dari saya mudah-mudahan cerita ini dapat menginspirasi teman-teman semua. Terima kasih,,

Filed in Uncategorized at 10:42 am

no comments

inspirasiku 1

Nama : Zahra Firdausi

NRP   : A34100076

Laskar : 20

( Cerita Inspirasiberdasarkan pengalaman teman )

Saya akan berbagi sedikit mengenai pengalaman teman saya. Mengenai suatu hal yang dulunya dia anggap biasa tapi ternyata hal itu memberikan sedikit hikmah bagi diri dia bahkan dia berharap untuk yang membacanya pula.
Sejujurnya dalam hidup dia,dia tidak suka dengan yang namanya seni rupa. Alasannya sederhana, karena dia memang tidak pandai dalam bidang itu sehingga dia selalu beranggapan tidak bisa. Suatu hari dia mendapatkan tugas seni rupa waktu SMA apalagi kalau bukan melukis, dan memang pada kenyataannya nilai melukis dia tidak terlalu memuaskan. Itulah yang membuat dia selalu pasrah dengan hasil yang ada dan kurang bersemangat dalam pelajaran itu.
Tak lama kemudian dia mendapat tugas kedua yaitu membuat buku agenda. Mendengarnya saja sudah terbayangkan sulit, dia berpikir mana bisa saya membuat sebuah buku agenda, melukis yang kemarin saja sudah terasa sulit bagi dia. Namun ada seorang teman dia yang selalu berkata jangan dulu berkata tidak bisa maka nantinya tidak bisa jika kita mau berusaha dan berkata bisa maka insya Allah akan bisa.
Orang tua dia pun selalu memberikan semangat pada dia apalagi Ibu dia yang senantiasa memperhatikan saya dia saya mengerjakan tugas itu dan menasehati dia jika ada yang kurang dalam pengerjaannya.
Lama kelamaan dia berpikir betul juga ya jika hasil yang kemarin kurang memuaskan maka dia harus berusaha di tugas yang kedua bahkan harus lebih baik dari yang kemarin. Karena itu merupakan salah satu tuntutan untuk nilai dia. Dengan sabar dia mengerjakan buku agenda itu. Setelah melalui tahap pemeriksaan awal akhirnya akhir pengumpulannya pun tiba. Satu persatu para siswa dipanggil hingga tiba gilirannya untuk dinilai. Dan ternyata tidak disangka Pak Guru menuliskan nilai A di belakang buku agendanya. Awalnya terasa mimpi, seni rupa saya mendapatkan A. Tapi ini adalah kenyataan. Dia merasa bahagia sekali akhirnya dengan semua usaha saya, Dia bisa mendapatkan hasil yang bagus. Dari pengalaman itu sekarang saya berpikir untuk jangan berkata tidak bisa tapi berkatalah bisa maka insya Allah bisa. Asalkan ada kemauan ada motivasi dalam diri kita dan tambahan motivasi dari orang di sekitar kita.

Filed in Uncategorized at 7:42 am

no comments